Daerah  

Atasi Banjir Kronis Lamongan, Pemprov Jatim Kucurkan Rp58 Miliar untuk Rampungkan Jabung Ring Dyke

(Dok. lensajatim.id)
Gubernur Jawa Timur (Dok. lensajatim.id)

FAKTAJATIM.ID – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) mengambil langkah konkret untuk memutus siklus banjir tahunan di wilayah Bengawan Jero, Kabupaten Lamongan.

Anggaran sebesar Rp58 miliar telah disiapkan guna menuntaskan proyek strategis nasional yang sempat terkendala dinamika lapangan.

Langkah ini diambil menyusul dampak banjir parah yang merendam sejumlah kecamatan di Lamongan dalam durasi yang cukup lama, terhitung sejak akhir tahun 2025 hingga Maret 2026.

Menyambung “Mata Rantai” yang Terputus

Kepala Dinas PU SDA Jawa Timur, I Nyoman Gunadi, menjelaskan bahwa fokus utama anggaran tersebut adalah penyelesaian konstruksi tanggul Jabung Ring Dyke.

Proyek ini menjadi kunci utama karena berfungsi sebagai pengatur debit air sebelum dialirkan ke hilir.

Nyoman merinci, dana tersebut dialokasikan melalui BBWS Bengawan Solo untuk merampungkan sisa 2 kilometer tanggul dari total panjang 24,4 kilometer yang direncanakan.

“Jika konstruksi ini tersambung, secara teknis sistem sudah bisa bekerja menahan dan mengalirkan air menuju laut, sehingga beban di hilir berkurang drastis,” kata Nyoman di Surabaya, Rabu (29/4/2026).

Meski anggaran dan rencana teknis telah siap, Nyoman tidak menampik adanya tantangan di sektor sosial.

Masih terdapat 49 kepala keluarga yang bermukim di area proyek, ditambah adanya klaim ganti rugi baru yang sering kali menghambat proses administrasi.

Rekayasa Hidrologi di “Mangkuk Raksasa”

Secara geografis, kawasan Bengawan Jero merupakan wilayah depresi yang menyerupai mangkuk raksasa.

Hal inilah yang menyebabkan air sulit surut secara alami. Oleh karena itu, pembangunan Jabung Ring Dyke dianggap sebagai solusi permanen yang tidak bisa ditunda lagi.

“Solusi permanen yang tengah dikejar adalah pembangunan Jabung Ring Dyke. Dengan kapasitas tampung 30 juta meter kubik, tanggul ini dirancang untuk menyudet debit air dari Bendung Babat sebesar 300 meter kubik per detik langsung ke laut,” jelas Nyoman.

Normalisasi Sungai sebagai Langkah Darurat

Sembari menunggu pengerjaan fisik tanggul raksasa tersebut tuntas, Pemprov Jatim juga melakukan langkah mitigasi jangka pendek melalui normalisasi sistem sungai Blawi, Malang, Corong, dan Mireng (BMCM).

Langkah ini bertujuan untuk memperlancar arus pembuangan air yang selama ini tersumbat sedimen.

“Tahun ini fokus kami di Kali Malang dan Kali Corong sepanjang 6,9 kilometer. Sosialisasi kepada petani dan petambak akan dimulai pekan ini agar air bisa lebih cepat surut saat musim hujan tiba,” pungkas Nyoman.

Dengan integrasi antara pembangunan tanggul permanen dan normalisasi sungai, diharapkan wilayah Lamongan tidak lagi menjadi langganan banjir durasi panjang pada musim penghujan mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *