FAKTAJATIM.ID – Setelah sempat menikmati posisi di puncak, harga emas akhirnya tergelincir ke zona merah pada penutupan perdagangan Rabu, 15 April 2026.
Euforia logam mulia sebagai aset penyelamat perlahan meredup seiring dengan pergeseran fokus pasar dari isu geopolitik menuju kebijakan moneter yang kian ketat.
Emas spot merosot 0,9 persen ke level 4.798,89 Dolar AS, menandakan berakhirnya reli panjang yang sempat mendominasi pasar keuangan global pekan lalu.
Melemahnya daya tarik emas dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan bahwa ketegangan antara Iran dan Israel mulai mendekati titik akhir.
Ditambah lagi dengan upaya diplomatik Pakistan di Teheran yang berhasil mendinginkan suasana. Kondisi ini membuat investor melakukan aksi ambil untung (profit-taking).
Uniknya, emas kini kehilangan pola tradisionalnya; ia tidak lagi dicari saat ketakutan perang memuncak, melainkan lebih responsif terhadap proyeksi inflasi dan stabilitas ekonomi global.
Faktor utama yang menekan emas adalah pernyataan Presiden Chicago Fed, Austan Goolsbee, mengenai potensi penundaan pemangkasan suku bunga hingga tahun 2027 jika harga minyak tetap tinggi.
Saat ini, peluang penurunan bunga di tahun 2026 kian menipis hingga tersisa 32 persen saja. Suku bunga tinggi adalah musuh utama emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa bunga.
Akibatnya, aliran dana investor mulai berpindah ke instrumen lain yang menawarkan imbal hasil lebih pasti di tengah ketidakpastian kebijakan Fed.
Koreksi ini mencerminkan realitas pasar yang pragmatis: ketika risiko perang mereda dan bunga tetap tinggi, emas harus rela kehilangan kilaunya di hadapan para spekulan dan institusi besar.















