Daerah  

Aktivitas Vulkanik Masih Tinggi, Gunung Semeru Tetap Berstatus Siaga (Level III)

Ilustrasi gunung erupsi

FAKTAJATIM.ID – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk mempertahankan status Gunung Semeru di Level III atau Siaga.

Keputusan ini diambil berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas visual dan instrumental gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut hingga periode 30 April 2026.

Meskipun sistem vulkanik saat ini terdeteksi berada dalam fase relaksasi, potensi bahaya dari proses permukaan seperti awan panas dan guguran lava tetap menjadi ancaman serius bagi masyarakat sekitar.

Dominasi Aktivitas Permukaan

Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa aktivitas Semeru saat ini didominasi oleh akumulasi material hasil erupsi.

Material ini dapat sewaktu-waktu runtuh menjadi guguran lava pijar maupun awan panas guguran (APG).

“Material guguran lava atau awan panas yang sudah terendapkan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru berpotensi menjadi lahar jika berinteraksi dengan air hujan,” ujar Lana dalam siaran pers, Selasa (5/5/2026).

Selain ancaman lahar, Lana juga memperingatkan adanya potensi erupsi sekunder, yang terjadi akibat interaksi antara endapan material panas dengan air sungai.

Analisis Kegempaan dan Deformasi

Sepanjang akhir April 2026, terekam intensitas gempa yang masih relatif tinggi, mencakup gempa letusan, guguran, embusan, hingga tremor harmonik. Menariknya, pemantauan deformasi menunjukkan pola yang cenderung stabil, menandakan tidak adanya peningkatan tekanan magma baru dari kedalaman ke permukaan.

“Kondisi itu menandakan bahwa sistem vulkanik sedang berada dalam fase relaksasi dan tidak mengalami presurisasi, namun sangat rentan terhadap peningkatan tekanan,” tambahnya.

Evaluasi teknis menunjukkan bahwa kejadian awan panas belakangan ini lebih disebabkan oleh ketidakstabilan material di permukaan (respon mekanik), bukan karena desakan magmatik dari dalam tubuh gunung.

Rekomendasi dan Larangan Aktivitas

Seiring dengan penetapan status Siaga, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi keamanan yang ketat guna menghindari jatuhnya korban jiwa:

  1. Sektor Tenggara (Besuk Kobokan): Dilarang keras melakukan aktivitas apapun sepanjang aliran sungai sejauh 13 km dari puncak.

  2. Sempadan Sungai: Di luar jarak 13 km, masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai Besuk Kobokan karena risiko perluasan awan panas dan lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

  3. Radius Puncak: Larangan total aktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak karena kerawanan lontaran batu pijar.

  4. Waspada Aliran Sungai: Masyarakat diminta waspada terhadap aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari aplikasi Magma Indonesia atau pos pengamatan gunung api setempat, mengingat kondisi cuaca yang sering berkabut dapat menghalangi pandangan visual terhadap erupsi yang terjadi secara tiba-tiba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *