FAKTAJATIM.ID – Sepanjang 2025, kondisi ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup kuat di tengah ketidakpastian global. Stabilnya konsumsi domestik, inflasi yang terkendali, serta semakin dominannya investor lokal menjadi faktor penting yang menopang kinerja pasar keuangan nasional.
Situasi tersebut tercermin pada penguatan pasar saham dan obligasi sepanjang tahun lalu. Likuiditas pasar yang membaik serta arah kebijakan moneter yang lebih akomodatif turut menjadi pendorong optimisme investor.
Perekonomian Indonesia pada 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Inflasi juga tetap terkendali dan ditutup pada level 2,92 persen secara tahunan. Stabilitas ini didukung kombinasi kebijakan fiskal dan moneter, termasuk langkah Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan hingga total 125 basis poin sepanjang tahun.
Di sisi konsumsi masyarakat, bantuan sosial pemerintah pada semester kedua 2025 ikut menjaga daya beli masyarakat. Dampaknya terlihat pada penguatan aktivitas ekonomi hingga akhir tahun.
Kinerja pasar modal Indonesia juga mencatat hasil positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 8.646,94 atau tumbuh 22,13 persen sepanjang 2025. Sementara pasar obligasi pemerintah melalui INDOBeX Government Index meningkat 12,43 persen secara tahunan.
Pasar modal syariah pun menunjukkan performa solid. Jakarta Islamic Index mencatat kenaikan 22,13 persen, didorong penguatan saham sektor konsumer, energi, dan komoditas. Adapun pasar sukuk pemerintah melalui IBPA Government Sukuk Index tumbuh 10,76 persen selama 2025.
Meski demikian, dinamika global masih diwarnai ketidakpastian. Isu tarif perdagangan Amerika Serikat, tekanan inflasi global, hingga perlambatan ekonomi sejumlah negara sempat memicu volatilitas pasar pada awal tahun. Kondisi mulai membaik pada semester kedua setelah Federal Reserve memangkas suku bunga sebanyak tiga kali.
Dalam kondisi tersebut, Allianz Indonesia tetap mempertahankan strategi investasi yang disiplin dan adaptif sambil menyiapkan langkah lebih selektif untuk menghadapi prospek ekonomi 2026.
Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia, Ni Made Daryanti mengungkapkan bahwa Allianz Indonesia mencatat total dana kelolaan atau asset under management (AUM) sebesar Rp43,7 triliun hingga akhir 2025.
“Nilai itu tumbuh 9,8 persen dibanding tahun sebelumnya dan mencakup dana kelolaan Allianz Life, Allianz Syariah, serta DPLK Allianz,” ungkapnya dalam keterangan tertulis yang dikutip redaksi, Jumat (8/5/2026).
Sepanjang 2025, lanjutnya, Allianz Indonesia mengelola 49 jenis unit link fund. Tiga produk dengan dana kelolaan terbesar adalah Smartlink Equity sebesar Rp5,8 triliun, Smartlink Fixed Income Rp1,7 triliun, dan Smartlink Balanced Rp1,4 triliun.
Atas kinerja dana kelolaan hingga tahun 2025, Allianz Life Indonesia meraih tujuh penghargaan pada Best Unit Link Award 2025 dari Investortrust & Infovesta.
Ketujuah penghargaan tersebut di antaranya, Smartwealth Equity IndoGlobal Fund Kategori Saham IDR Konvensional Periode 5, 7, dan 10 Tahun, Smartwealth Equity Indoasia Fund(USD) Kategori Saham USD Periode 10 Tahun, dan Smartwealth Dollar Multi Asset Fund Kategori Campuran USD Periode 5 Tahun.
“Sebagai Smartwealth Dollar US Bond Fund Kategori Pendapatan Tetap USD Periode 3 Tahun, serta GroupLink Money Market Fund Kategori Pasar Uang IDR Konvensional Periode 5 Tahun,” terang Ni Made.
Allianz Life Indonesia juga menerima lima penghargaan pada Unitlink Award 2025 dari Media Asuransi untuk: Smartwealth Dollar Equity World Opportunities Funds, Smartwealth Dollar US Bond Fund, GroupLink Money Market Fund, Smartwealth Equity Indoglobal Class B Fund, dan Smartwealth Dollar Multi Asset Fund.
Kemudian di tahun 2026, Allianz Life Indonesia mendapatkan penghargaan pada Best Unit Link Award 2026 dari Investortrust & Infovesta, CNBC Indonesia Unitlink Awards 2026, Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust, dan Media Asuransi Unitlink Awards 2026.
“Deretan penghargaan ini mencerminkan konsistensi pengelolaan dana dalam menghasilkan imbal hasil yang kompetitif dengan karakteristik risiko yang terjaga,” pungkas Nimade.[zul]















