Ketegangan Geopolitik Memanas, Harga Minyak Mentah Kembali Menguat di Hari Ketiga

FAKTAJATIM.ID – Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Selasa (03/03/2026).

Kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran yang menimbulkan kekhawatiran serius akan terhentinya pasokan energi global dari kawasan Timur Tengah.

Pergerakan Harga Pasar

Berdasarkan data Reuters, dua patokan minyak dunia mencatatkan kenaikan signifikan:

  • Minyak Mentah Brent: Naik 1,4% (1,10 Dolar AS) ke posisi 78,83 Dolar AS per barel. Sebelumnya, Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025 di angka 82,37 Dolar AS.

  • West Texas Intermediate (WTI): Menguat 1% (74 sen) ke level 71,97 Dolar AS per barel, mendekati level tertinggi sejak Juni 2025.

Krisis Selat Hormuz: Jalur Vital Terancam

Ketegangan memuncak menyusul serangan udara di Lebanon yang dibalas Iran dengan menyasar infrastruktur energi di Teluk serta kapal tanker.

Ancaman terbesar datang dari penutupan Selat Hormuz, jalur yang dilalui seperlima kebutuhan minyak global dan 20% perdagangan LNG dunia.

Baca Juga: Selat Hormuz Memanas: Pemerintah Siapkan Mitigasi Pasokan Energi

Analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai risiko lonjakan harga masih terbuka lebar selama de-eskalasi tidak terjadi.

“Dengan tidak adanya tanda-tanda de-eskalasi cepat, Selat Hormuz praktis tertutup dan Iran menunjukkan kesediaan untuk menargetkan infrastruktur energi di kawasan tersebut, risiko kenaikan harga tetap ada dan akan semakin besar jika konflik berlangsung lama,” ungkap Sycamore.

Situasi kian genting setelah Garda Revolusi Iran mengklaim telah menutup selat tersebut bagi pelayaran. Hal ini memicu pembatalan proteksi asuransi bagi kapal-kapal tanker, memaksa mereka menghindari jalur tersebut.

Proyeksi Harga: Skenario Ekstrem 150 Dolar AS

Lembaga riset Bernstein telah merevisi proyeksi harga Brent tahun 2026 dari sebelumnya 65 Dolar AS menjadi 80 Dolar AS per barel. Namun, para analis memperingatkan adanya risiko yang lebih fatal jika konflik tidak mereda.

  • Skenario Moderat: Harga bertahan di level tinggi seiring pengalihan rute kapal.

  • Skenario Ekstrem: Jika konflik berkepanjangan dan blokade total terjadi, harga minyak diprediksi bisa meroket hingga ke kisaran 120 – 150 Dolar AS per barel.

Kenaikan ini menjadi alarm bagi negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, yang mulai mewaspadai risiko lonjakan beban subsidi energi dan dampak inflasi domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *