Wamendikdasmen: Pendidikan Karakter Masif Jadi Kunci Transformasi Bangsa di Kancah Global

/Dok. Kemendikdasmen

FAKTAJATIM.ID – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menekankan pentingnya integrasi antara nilai religius dan intelektualitas sebagai fondasi utama kemajuan nasional.

Menurutnya, sebuah bangsa akan sulit memberikan kontribusi nyata bagi peradaban dunia jika tidak memiliki komitmen berkelanjutan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Dalam kunjungannya di Bandung, Minggu (8/3), Atip menjelaskan bahwa visi besar untuk membawa kejayaan umat dan bangsa harus didasari oleh cara pandang yang tidak sempit terhadap institusi pendidikan dan agama.

“Untuk membawa kejayaan umat dan bangsa, kita membutuhkan cara pandang yang luas dan komprehensif terhadap agama dan pendidikan. Dengan pendekatan tersebut, kita dapat melahirkan generasi yang tidak hanya kuat dalam pemahaman agama, tetapi juga unggul dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan,” ujar Atip.

Keseimbangan Karakter: Antara Doa dan Usaha

Selain aspek intelektual, Atip juga menyoroti dimensi spiritual dalam etos kerja masyarakat.

Ia memperingatkan agar generasi muda tidak terjebak dalam sikap pasif maupun sombong dalam mengejar cita-cita.

“Berdoa tanpa usaha mencerminkan kemalasan, sementara usaha tanpa doa menunjukkan kesombongan,” tambahnya.

Pesan ini disampaikan saat ia menjadi keynote speaker dalam acara Silaturahmi Awardee dan Diskusi Pendidikan Karakter di Aula PP PERSIS, Kota Bandung.

Di hadapan para peserta, ia menegaskan bahwa karakter merupakan modal utama bagi bangsa yang ingin melakukan lompatan besar.

Belajar dari Transformasi Global

Sebagai perbandingan, Atip mencontohkan Tiongkok yang berhasil bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi dunia melalui penguatan Sumber Daya Manusia (SDM).

Keberhasilan tersebut, menurutnya, merupakan buah dari kemauan belajar yang luar biasa dan penguatan pendidikan karakter secara masif.

Kehadiran Wamendikdasmen dalam kegiatan ini juga bertujuan memperkuat sinergi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan di bulan Ramadan.

Atip meyakini bahwa peningkatan kualitas pendidikan bukan merupakan beban tunggal pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa.

Melalui sosialisasi kebijakan Kemendikdasmen ini, pemerintah berharap muncul kesadaran bersama untuk terus mendorong standar pendidikan nasional ke arah yang lebih unggul dan kompetitif di kancah internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *