FAKTAJATIM.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo, Jawa Timur, bergerak cepat menyiapkan strategi bagi para petani untuk menghadapi musim kemarau tahun ini.
Para petani didorong untuk beralih menggunakan bibit padi varietas genjah (berumur pendek) guna menjaga stabilitas produksi pangan di tengah keterbatasan sumber daya air.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Situbondo, Qurtaul Aini, menjelaskan bahwa pemilihan varietas ini merupakan solusi teknis yang paling memungkinkan untuk meminimalisir risiko pertanian di saat cuaca ekstrem.
Solusi Ketahanan Air
Menurut Qurtaul Aini, varietas padi berumur pendek memiliki keunggulan komparatif karena durasi tanam yang lebih singkat dibandingkan padi reguler, sehingga kebutuhan airnya jauh lebih efisien.
“Langkah ini menjadi strategi guna memastikan produktivitas padi di Situbondo tetap terjaga, dan petani juga bisa mendapatkan hasil panen yang maksimal meski dalam kondisi musim kemarau,” ujarnya di Situbondo, Jumat (24/4/2026).
Wanita yang akrab disapa Tutuk ini memaparkan beberapa varietas unggulan yang direkomendasikan karena terbukti tahan terhadap kekurangan air.
“Beberapa bibit padi genjah tahan kekurangan air, di antaranya Inpago 4-13, Inpari 38-46, Situbagandit, Cakrabuana,” paparnya.
Optimalisasi Sumber Air Sekunder
Selain penggunaan bibit unggul, pemerintah daerah juga meminta para petani untuk lebih proaktif dalam mengelola infrastruktur pengairan yang tersedia.
Tutuk menekankan pentingnya pemanfaatan sumber air alternatif selain saluran irigasi utama yang debitnya cenderung menurun saat kemarau.
Petani diminta mengoptimalkan pemanfaatan air irigasi dari sumber air dangkal serta sumber air lainnya yang masih tersedia di sekitar lahan garapan guna memastikan fase pertumbuhan padi tidak terhenti.
Rekam Jejak Surplus Pangan
Langkah antisipatif ini diambil untuk mempertahankan prestasi gemilang sektor pertanian Situbondo. Berdasarkan data sepanjang tahun 2025, Situbondo berhasil mencatatkan produksi padi mencapai 321.723 ton dari luasan lahan 65.151 hektare.
Angka tersebut melampaui target yang ditetapkan Kementerian Pertanian (241.266 ton), dengan surplus mencapai sekitar 80.000 ton. Keberhasilan ini menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam menjadikan ketahanan pangan sebagai program prioritas nasional di daerah.














