Dukung Kemandirian Energi, Pertamina Dorong Pengolahan Kelapa Sawit dari Hulu ke Hilir

Pertamina berkomitmen memanfaatkan CPO hingga limbah Tandan Kosong Sawit (TKS) untuk menekan impor BBM./Dok. Ist

FAKTAJATIM.ID — PT Pertamina (Persero) terus mempertegas komitmennya dalam mendukung target Pemerintah menekan angka impor Bahan Bakar Minyak (BBM) demi memperkuat ketahanan energi nasional.

Langkah strategis ini difokuskan melalui optimalisasi pemanfaatan kelapa sawit beserta produk turunannya dari hulu ke hilir.

Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, dalam forum Pekan Riset Sawit Indonesia 2026.

Ia menyatakan bahwa bioenergi berbasis sawit merupakan solusi nyata dan terukur untuk menjawab tantangan pemenuhan energi domestik yang selama ini masih bergantung pada minyak mentah serta BBM impor.

“Jawabannya ada di depan mata kita. Dengan sumber daya CPO (Crude Palm Oil) dan Tandan Kosong Sawit, kita harus mampu mengubahnya menjadi energi,” tegas Oki dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Baca Juga: Sudirman Said Datangi KPK Jumat Pagi, Diperiksa Kasus Pertamina Energy Trading Limited

Dalam paparannya, Oki menguraikan tiga potensi utama bioenergi bagi masa depan energi nasional:

  • Ketersediaan Melimpah: Sumber daya biomassa domestik yang sangat besar di dalam negeri.

  • Dekarbonisasi & Ketahanan Energi: Menjadi pilar krusial penekan emisi di sektor transportasi sekaligus menjaga kecukupan pasokan BBM.

  • Ekonomi Sirkular: Mampu menggerakkan roda perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Ekspansi B50 hingga Pengolahan Limbah TKS

Kiprah konkret Pertamina telah dibuktikan lewat implementasi program biodiesel B50, yang sukses mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pengguna biodiesel terbesar di dunia. Saat ini, jaringan distribusi B50 telah menjangkau 86 dari total 121 Terminal BBM milik Pertamina di seluruh Nusantara.

Tidak berhenti pada biodiesel, Pertamina juga merambah pengembangan bioetanol untuk menekan impor bensin. Salah satunya melalui pembangunan fasilitas produksi bioetanol di Glenmore berkapasitas 30 ribu kiloliter per tahun demi mengejar target pencampuran E10 sesuai roadmap Pemerintah.

Selain memanfaatkan Crude Palm Oil (CPO), Pertamina kini membidik potensi limbah Tandan Kosong Sawit (TKS) yang volumenya mencapai 25 juta ton per tahun untuk diolah menjadi bioetanol berbasis selulosa.

“Tantangan kita sekarang ada di hilirisasi. Bagaimana TKS ini bisa kita pecah menjadi glukosa lalu menjadi bioetanol. Kalau inisiatif ini berhasil, maka tidak ada lagi limbah yang sia-sia,” jelas Oki.

Penguatan Kilang Hijau dan Sinergi Ekosistem

Guna menopang lompatan teknologi ini, Pertamina terus meningkatkan kapasitas infrastruktur pengolahan.

Perusahaan tengah mendukung pembangunan Dedicated Green Refinery di Cilacap, setelah sebelumnya sukses mengaplikasikan teknologi co-processing secara komersial di lokasi yang sama.

Saat ini, uji coba teknologi serupa juga tengah berlangsung di Kilang Balongan dan Kilang Dumai.

Oki menekankan bahwa kunci keberhasilan transisi menuju kemandirian energi terletak pada keterlibatan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders).

“Ini semua membutuhkan kerja sama. Tidak bisa hanya mengandalkan industri, namun harus ada sinergi antara Pemerintah, perbankan, akademisi, dan masyarakat. Tujuannya satu, mewujudkan kemandirian energi dan mengurangi beban devisa negara,” pungkasnya.

Baca Juga: Dukung Program Pembangunan Bupati H Shalahudin, Kades Bukit Sawit Paning Ragen. Fokus Aspalisasi Jalan Desa Dilaksanakan Setiap Tahun Selama Jabatannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *