Daerah  

Kerahkan Helikopter Water Bombing, Karhutla Gunung Bromo Berhasil Dipadamkan

Petugas gabungan saat melakukan upaya pemadaman dan pendinginan (cooling down) sisa titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS)./Dok. Polres Probolinggo

FAKTAJATIM.ID — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) akhirnya berhasil dikendalikan dan padam total pada Kamis malam.

Keberhasilan ini dicapai setelah ratusan petugas gabungan berjibaku memadamkan titik api di wilayah Kabupaten Probolinggo hingga Pasuruan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, mengonfirmasi bahwa berdasarkan pantauan visual terkini dari lapangan, sudah tidak ditemukan lagi kobaran api.

“Alhamdulillah berdasarkan informasi dari petugas yang berada di lokasi, sudah tidak terlihat titik api. Tapi, petugas akan tetap memantau keesokan harinya,” kata Oemar Sjarief saat dikonfirmasi melalui telepon di Probolinggo, Kamis malam.

Guna memastikan api tidak kembali berkobar akibat tiupan angin, tim gabungan tetap disiagakan di area terdampak untuk melakukan proses pendinginan (cooling down) serta pembuatan sekat bakar.

Baca Juga: Bantu Pengungsi Semeru, Zita Anjani Bersama Bulog Salurkan Paket Sembako 

“Mudah-mudahan semuanya sudah padam dan tidak ada lagi titik api baru karena semua petugas gabungan berjibaku tanpa henti memadamkan karhutla. Petugas juga membuat sekat bakar untuk mencegah meluasnya titik api,” tuturnya.

Sinergi Operasi Darat dan Udara

Keberhasilan penanganan karhutla Bromo ini tak lepas dari strategi penanganan terpadu yang memadukan operasi darat dan udara.

Sebanyak tiga unit helikopter water bombing dikerahkan untuk melakukan pembasahan intensif di titik-titik krusial yang sulit dijangkau, seperti kawasan P30 Kabupaten Probolinggo dan Pusung, Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan.

Selain helikopter, penanganan di lapangan turut didukung dengan mengerahkan enam unit mobil pemadam kebakaran, satu unit water drone BNPB, 70 unit sepeda motor trail, lima kendaraan double cabin, serta peralatan pemadaman manual.

Petugas juga memanfaatkan aplikasi Sistem Monitoring Hutan dan Lahan (SIPONGI) serta pemantauan udara untuk mendeteksi munculnya titik panas (hotspot) secara real-time.

Meskipun api telah padam, Oemar tetap mengingatkan publik agar senantiasa waspada dan turut menjaga kelestarian kawasan alam tersebut.

“Masyarakat juga diimbau tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap di sekitar kawasan hutan,” kata Oemar.

Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, total luas area TNBTS yang terdampak kebakaran melintasi empat wilayah kabupaten—yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang—diperkirakan mencapai sekitar 1.120 hektare.

Baca Juga: Buka Festival Gir Sereng, Wali Kota Probolinggo Dorong Pelestarian Budaya dan Ekonomi Lokal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *