FAKTAJATIM.ID – Gedung Negara Grahadi, Surabaya, kembali menjadi pusat hangatnya silaturahmi pada perayaan Idulfitri 1447 Hijriah, Sabtu (21/3/2026).
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menggelar tradisi riyayan yang mempertemukan ribuan warga dengan pemimpinnya dalam suasana penuh kebersamaan.
Menurut Khofifah, momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan jembatan emosional antara rakyat dan penguasa.
“Tradisi riyayan memiliki makna penting tidak hanya sebagai ajang silaturahim, tetapi juga sebagai ruang membangun kedekatan emosional antara pemerintah dan masyarakat,” kata Gubernur Khofifah di sela acara.
Pemberdayaan PKL dan Berbagi Berkah
Ada yang unik dalam gelaran tahun ini. Halaman Grahadi berubah menjadi pusat kuliner rakyat.
Berbagai hidangan seperti soto ayam, soto daging, nasi goreng, hingga bakso disajikan secara gratis oleh para pedagang kaki lima (PKL) yang sengaja dilibatkan oleh Pemprov Jatim.
Khofifah menjelaskan bahwa langkah ini merupakan strategi untuk menggerakkan ekonomi akar rumput sembari berbagi kebahagiaan.
“Yang datang ke sini adalah masyarakat dari berbagai ragam latar belakang. Dan ini usaha kami memberseiringi Lebaran mereka. Harapannya mereka bisa tetap menikmati setelah membawa bekal dari sini,” ujarnya.
Tak berhenti di hidangan gratis, warga yang hadir juga pulang dengan tangan penuh. Pemprov Jatim membagikan paket sembako berisi dua kilogram beras, biskuit, dan tiga bungkus mi instan untuk meringankan beban kebutuhan rumah tangga.
Pesan Perdamaian dari Jawa Timur
Di balik kemeriahan Lebaran, Khofifah juga memberikan sorotan tajam pada kondisi dunia.
Ia memandang silaturahmi lokal sebagai benteng pertahanan menghadapi gejolak geopolitik global yang kian tidak menentu.
“Tentu kita berharap bahwa peperangan bisa dihentikan, karena dampaknya bukan hanya di BBM tapi juga efek domino lainnya. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah hal-hal kecil kekeluargaan untuk meredam dampaknya,” tegas mantan Menteri Sosial tersebut.
Ia menambahkan bahwa tradisi riyayan sangat krusial untuk menjaga stabilitas internal.
“Tentu kita berharap bahwa peperangan bisa dihentikan… hal-hal kecil kekeluargaan untuk meredam dampaknya,” tambahnya lagi menekankan pentingnya solidaritas.
Senyum Warga: Dari Ojol hingga Ibu Rumah Tangga
Manfaat nyata dari acara ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Siti Aminah, salah satu pengunjung setia, mengaku selalu menantikan momen ini.
“Rutin menghadiri kegiatan tersebut setiap tahun karena dinilai sangat membantu masyarakat,” ungkapnya.
Rasa syukur juga datang dari Ahmad Fajar, seorang pengemudi ojek daring yang mengajak dua buah hatinya.
Baru pertama kali menginjakkan kaki di riyayan Grahadi, ia merasa sangat terbantu dengan adanya pembagian sembako serta pemberian tunjangan hari raya (THR).
Menutup rangkaian acara, Khofifah berharap semangat gotong royong ini tetap menyala di hati warga Jawa Timur.
“Selamat Idul Fitri 1447 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin. Semoga















