FAKTAJATIM.ID – Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 1 dolar AS pada perdagangan Rabu (4/3/2026).
Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang mulai mengganggu jalur pasokan energi utama di Timur Tengah.
Mengutip data Reuters, harga minyak mentah jenis Brent naik 1,11 dolar AS (1,4%) menjadi 82,53 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat 79 sen (1,1%) ke level 75,37 dolar AS per barel. Angka ini mencatatkan posisi penutupan tertinggi bagi kedua jenis minyak tersebut dalam setahun terakhir.
Gangguan Produksi dan Jalur Distribusi
Lonjakan harga terjadi pasca serangan balasan Iran yang menargetkan infrastruktur energi di kawasan penghasil sepertiga produksi minyak dunia. Situasi diperparah oleh kondisi di Irak dan Selat Hormuz:
Irak: Sebagai produsen terbesar kedua OPEC, Irak memangkas produksi sebesar 1,5 juta barel per hari akibat kendala penyimpanan dan jalur ekspor yang terhenti. Pejabat setempat memperingatkan pemangkasan bisa mencapai 3 juta barel per hari jika situasi tidak membaik.
Baca Juga: Ancaman Krisis Minyak Dunia, Indonesia Harus Genjot Pembangunan SPR
Selat Hormuz: Jalur pelayaran vital yang dilalui seperlima perdagangan minyak dunia ini dilaporkan lumpuh selama empat hari setelah Iran menyerang lima kapal tanker.
Respons Global dan Upaya Mitigasi
Presiden AS Donald Trump menyatakan kesiapan Angkatan Laut AS untuk mengawal kapal tanker guna meredakan kecemasan pasar.
Namun, para analis meragukan langkah tersebut dapat memulihkan kepercayaan perusahaan pelayaran dengan cepat.
Sejumlah negara konsumen besar mulai mengambil langkah darurat:
Indonesia & India: Melaporkan tengah mengamankan sumber energi alternatif untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Tiongkok: Beberapa kilang memilih menghentikan operasional sementara atau mempercepat jadwal perawatan fasilitas.
Arab Saudi: Saudi Aramco berupaya mengalihkan ekspor melalui Laut Merah guna menghindari risiko di Selat Hormuz.
Dampak pada Ekonomi Nasional
Pasar kini menantikan data resmi stok minyak mentah pemerintah AS yang dijadwalkan rilis hari ini. Data awal menunjukkan kenaikan stok sebesar 5,6 juta barel, jauh di atas proyeksi pasar.
Bagi negara importir seperti Indonesia, reli harga minyak ini meningkatkan risiko inflasi energi yang signifikan.
Gangguan distribusi berkepanjangan di Timur Tengah diprediksi akan terus menekan fiskal negara yang masih bergantung pada impor minyak mentah dan BBM.















