FAKTAJATIM.ID – Pada Minggu, 1 Maret 2026, Iran secara resmi menutup Selat Hormuz. Langkah drastis ini diambil hanya beberapa jam setelah serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.
Selat Hormuz merupakan titik transit paling krusial yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Sebagai gambaran:
Volume Distribusi: Pada 2024, tercatat sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi jalur ini.
Kontribusi Global: Angka tersebut setara dengan 20% konsumsi minyak dunia atau hampir seperempat dari total perdagangan minyak laut global.
Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz: Krisis 2026 Bisa Lebih Parah dari 2008 dan 2022
Proyeksi Kenaikan Harga Minyak
Berdasarkan data dari IMF Working Paper dan IEA Market Report, terdapat hubungan elastisitas yang tajam antara suplai dan harga:
Penurunan suplai 1% dapat memicu kenaikan harga 5-10%.
Jika 5% suplai hilang, harga bisa melonjak 25-40%.
Target Harga: Dari 70 dolar AS, harga diprediksi meroket ke kisaran 87 – 98 dolar AS per barel.
Sebagai negara net-importir minyak mentah dengan kebutuhan mencapai 700-900 ribu barel per hari, Indonesia berada dalam posisi yang sangat rentan.
1. Kenaikan Harga BBM
Jika harga dunia naik 25%, maka harga BBM domestik di Indonesia diperkirakan akan terkoreksi naik sebesar 10-20%. Hal ini akan membebani sektor transportasi dan logistik secara langsung.
2. Inflasi dan Nilai Tukar
Kenaikan harga energi selalu menjadi pemicu utama inflasi. Selain itu, meningkatnya kebutuhan devisa untuk mengimpor minyak yang mahal akan memberikan tekanan berat pada nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.
3. Momentum Transisi Energi
Krisis ini mempertegas urgensi elektrifikasi maritim dan percepatan transisi energi di Indonesia guna mengurangi ketergantungan pada fluktuasi pasar energi global yang sangat dipengaruhi oleh geopolitik Timur Tengah.













