FAKTAJATIM.ID – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang kembali meningkat signifikan.
Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut tercatat mengalami empat kali erupsi beruntun dengan tinggi letusan bervariasi antara 800 meter hingga satu kilometer di atas puncak pada Kamis (9/4/2026).
Rangkaian erupsi dimulai sejak dini hari. Letusan pertama terjadi pada pukul 00.21 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 900 meter.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, melaporkan visual abu vulkanik yang mengarah ke wilayah timur laut.
“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut dan erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 21 mm dan durasi 122 detik,” kata Sigit Rian Alfian dalam laporan tertulisnya, Kamis.
Intensitas Erupsi Meningkat
Hanya berselang tiga jam, tepatnya pukul 03.27 WIB, Semeru kembali memuntahkan material vulkanik setinggi satu kilometer. Erupsi ketiga menyusul pada pukul 04.30 WIB dengan tinggi kolom 800 meter.
Tak berhenti di situ, pada pagi hari pukul 06.10 WIB, erupsi kembali terjadi dengan kekuatan yang cukup besar.
“Pada pukul 06.10 WIB terjadi erupsi lagi dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar satu kilometer di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat laut dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 169 detik,” tutur Sigit.
Status Siaga dan Rekomendasi Bahaya
Hingga saat ini, Gunung Semeru masih bertahan pada Status Level III (Siaga).
Mengingat tingginya aktivitas vulkanik, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan larangan keras bagi warga maupun wisatawan untuk mendekati area rawan.
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak.
Di luar jarak itu, warga juga dilarang beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar yang bisa mencapai 17 kilometer.
“Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” tegasnya.
Selain ancaman langsung dari puncak, Sigit mengingatkan warga untuk waspada terhadap bahaya sekunder berupa banjir lahar dingin, terutama saat hujan turun di wilayah puncak.
“Masyarakat perlu mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” pungkasnya.















