Hari Pertama Perundingan Damai Ukraina-Rusia di Jenewa Berakhir Buntu

FAKTAJATIM.ID – Upaya perundingan damai antara Ukraina dan Rusia yang dimediasi Amerika Serikat di Jenewa belum menunjukkan tanda-tanda terobosan pada hari pertama pertemuan, Selasa (17/2/2026) waktu setempat. Dialog yang berlangsung selama enam jam itu berakhir tanpa kemajuan berarti, menandakan jurang perbedaan kedua pihak masih sangat lebar.

Sumber yang dekat dengan delegasi Rusia menyebut pembicaraan berlangsung alot dan penuh ketegangan. Meski diskusi resmi telah ditutup untuk hari pertama, perundingan dijadwalkan berlanjut pada sesi berikutnya.

Perbedaan tajam terutama masih berkisar pada isu wilayah yang dikuasai Rusia sejak konflik pecah. Hingga kini, Moskow mengendalikan sekitar seperlima wilayah Ukraina, termasuk Krimea yang dianeksasi pada 2014, serta sejumlah kawasan di Ukraina timur yang menjadi basis kelompok separatis pro-Rusia.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menegaskan bahwa Kiev siap menempuh jalur diplomasi untuk mengakhiri perang. Namun ia mempertanyakan komitmen Moskow dalam mencari solusi damai yang nyata. Zelensky menuding Rusia masih lebih mengedepankan kekuatan militer dibandingkan negosiasi substantif.

Konflik antara kedua negara bermula dari invasi besar-besaran Rusia pada Februari 2022 dan telah berkembang menjadi perang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II. Empat tahun berlalu, peperangan belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian komprehensif.

Di tengah proses diplomasi di Jenewa, situasi di garis depan justru kembali memanas. Pemerintah Ukraina menuduh Rusia meluncurkan puluhan rudal serta ratusan drone menjelang perundingan. Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiga, menyatakan bahwa serangan tersebut mencerminkan ketidaksungguhan Rusia dalam mendukung proses perdamaian.

Menurutnya, aksi militer skala besar tepat sebelum pembicaraan lanjutan di Jenewa menjadi bukti bahwa Moskow belum sepenuhnya berkomitmen pada diplomasi.

Di sisi lain, Kremlin berusaha menurunkan ekspektasi publik terhadap hasil awal pertemuan tersebut. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa tidak realistis mengharapkan perkembangan besar hanya dalam satu kali pertemuan awal.

Mediasi Amerika Serikat di Jenewa sejauh ini baru menjadi langkah awal yang masih jauh dari kesepakatan konkret. Perbedaan posisi mengenai status wilayah, jaminan keamanan, serta syarat gencatan senjata tetap menjadi hambatan utama.

Dengan dinamika medan perang yang masih aktif dan ketidakpercayaan yang tinggi di antara kedua belah pihak, jalan menuju perdamaian tampak panjang. Putaran lanjutan perundingan diharapkan dapat mempersempit perbedaan, meski peluang terobosan cepat dinilai kecil oleh sejumlah pengamat.[mut]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *