MBG dan Ilusi Jutaan Lapangan Kerja Baru

Sumber Foto: Isntagram Infokrw.

PROGRAM MBG sering disebut berhasil karena dianggap membuka jutaan lapangan kerja. Klaim ini terdengar kuat, tetapi perlu dijelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud sebagai “lapangan kerja baru”.

Banyak pekerjaan yang dimasukkan dalam angka tersebut sebenarnya sudah ada sebelum program berjalan. Pedagang bahan pangan sudah berjualan, pekerja katering sudah memasak, dan jasa distribusi sudah beroperasi.

Setelah MBG berjalan, sebagian dari aktivitas itu dialihkan untuk memenuhi kebutuhan program. Perubahan ini kemudian dihitung sebagai penciptaan pekerjaan baru, padahal yang terjadi sering kali hanya perpindahan aktivitas ekonomi dari pasar umum ke program pemerintah.

Perpindahan ini memiliki konsekuensi. Ketika pedagang atau pekerja mulai bergantung pada pesanan dari program, mereka mengurangi ketergantungan pada pelanggan lama. Sumber pendapatan menjadi lebih terkonsentrasi pada satu pihak, yaitu program MBG.

Selama program berjalan, kondisi ini terlihat stabil karena permintaan dijamin oleh anggaran negara. Namun stabilitas tersebut tidak berasal dari permintaan pasar yang alami, melainkan tergantung dari keberlanjutan kebijakan dan ketersediaan anggaran.

Masalah muncul jika program dihentikan atau anggarannya dikurangi. Tenaga kerja yang sebelumnya bekerja dalam ekosistem MBG berpotensi kehilangan sumber pendapatan secara bersamaan.

Mereka tidak hanya kehilangan pekerjaan dalam program, tetapi juga belum tentu dapat kembali ke kondisi usaha sebelumnya, karena pola usaha dan jaringan pelanggan sudah berubah.

Dengan kata lain, risiko yang muncul bukan sekadar hilangnya pekerjaan tambahan, melainkan terganggunya pekerjaan yang sebelumnya sudah ada.

Di sinilah letak masalah dalam klaim penciptaan jutaan lapangan kerja. Jika pekerjaan yang dihitung sebagai “baru” sebenarnya merupakan pekerjaan lama yang dialihkan, maka penghentian program akan menunjukkan bahwa ekonomi tidak benar-benar bertambah kuat.

Aktivitas ekonomi hanya berpindah tempat. Ketika program berhenti, aktivitas tersebut ikut menurun karena tidak ada lagi permintaan yang menggantikannya.

Pekerjaan yang berkelanjutan seharusnya tetap dibutuhkan meskipun program pemerintah berakhir. Jika keberadaan pekerjaan sepenuhnya bergantung pada anggaran dan program negara, maka pekerjaan tersebut bersifat sementara.

Pekerjaan yang sehat menciptakan nilai tambah yang membuatnya tetap dibutuhkan, bahkan saat program dihentikan. Ia bertahan karena ada permintaan pasar, bukan karena ada proyek, apalagi hanya proyek politik.

Jika tenaga kerja MBG hanya hidup selama program berlangsung, maka yang sebenarnya diciptakan bukan ekosistem ekonomi baru, melainkan ketergantungan sementara pada belanja negara.

Dalam jangka pendek terlihat seperti solusi sosial, tetapi dalam jangka panjang berisiko menjadi bom waktu sosial ketika program berhenti dan kekuasaan berganti, sementara kebutuhan hidup para pekerja tetap berjalan.

Pada akhirnya, nasib tenaga kerja MBG bukan sekadar soal ada atau tidaknya pekerjaan hari ini, melainkan tentang apakah negara sedang membangun fondasi ekonomi yang membuat mereka mandiri, atau hanya menciptakan rasa aman sementara yang bisa hilang seiring perubahan kebijakan dan kekuasaan.[***]

Oleh: Hamdi Putra, Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *