Dampak Idul Adha, Harga Daging Sapi di Lamongan Meroket hingga Rp130 Ribu per Kilogram

Lapak pedagang daging sapi di pasar tradisional Lamongan memilih tutup sementara akibat melonjaknya harga pasokan pasca-Idul Adha./Dok. Ist

FAKTAJATIM.ID – Lonjakan harga daging sapi pasca-Hari Raya Idul Adha mulai dikeluhkan oleh para pedagang pasar hingga pelaku usaha kuliner di Kabupaten Lamongan. Saat ini, harga komoditas tersebut meroket hingga menyentuh angka Rp130 ribu per kilogram.

Akibat kenaikan yang signifikan ini, sejumlah pedagang memilih untuk meliburkan diri sembari menunggu harga kembali stabil.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lamongan menilai kenaikan harga ini sebagai dampak dari ‘anomali’ siklus tahunan perayaan Idul Adha.

Aktivitas penyembelihan dan transaksi keluar daerah yang meningkat tajam dinilai telah menguras stok sapi siap potong di tingkat lokal.

Kepala Disnakeswan Lamongan, Shofiah Nur Hayati, memaparkan bahwa volume pemotongan hewan kurban selama momen Idul Adha terbilang sangat masif.

Berdasarkan basis data instansinya, ribuan ekor sapi telah dipotong untuk kebutuhan kurban maupun didistribusikan ke luar wilayah Lamongan.

“Idul adha stok-stok sapi banyak yang dipotong, dari data kita 5.678 ekor dan yang dijual ke luar daerah ada sekitar 5.000 ekor,” kata Shofiah Nur Hayati kepada wartawan, Kamis (16/7/2026).

Baca Juga: Selain Dagingnya, Ini Manfaat Konsumsi Biji Nangka Bagi Kesehatan

Selain menipisnya pasokan pasca-kurban, Shofiah menyebut fluktuasi harga di tingkat hilir juga dipengaruhi oleh naiknya harga sapi hidup di pasar-pasar hewan regional.

Rata-rata harga sapi di pasaran terpantau mengalami kenaikan sekitar Rp1 juta per ekor.

Di sisi lain, Shofiah melihat kondisi ini menunjukkan hal positif dari pulihnya sektor peternakan pasca-keberhasilan penanggulangan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), yang berdampak pada peningkatan kualitas dan nilai jual sapi.

“Faktor kenaikan harga sapi dipengaruhi besarnya konsumsi masyarakat dan perbaikan kualitas sapi karena tidak Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) bisa ditanggulangi,” tuturnya.

Untuk mengatasi gejolak harga tersebut, Disnakeswan Lamongan kini tengah menginisiasi program penambahan populasi di tingkat peternak agar rantai pasok kembali normal dan harga daging di pasaran berangsur turun.

Pihaknya menegaskan bahwa ketersediaan populasi sapi di Lamongan sebenarnya berada dalam kategori aman.

Hanya saja, sebagian besar komoditas ternak yang tersisa saat ini masih memerlukan waktu pembesaran dan belum memasuki fase siap potong.

“Sebenarnya stok sapi aman tapi belum siap untuk dipotong, ya karena itu idul adha. Sedangkan sapi yang siap dipotong dari data Puskeswan ada 16.109,” urai Shofiah.

Pemerintah daerah memproyeksikan stabilitas harga daging sapi di pasar-pasar tradisional Lamongan baru akan pulih secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan, seiring pemulihan jumlah populasi ternak yang siap masuk ke rumah pemotongan hewan.

“Kemungkinan harga daging sapi bisa turun dua sampai 3 bulan ke depan, menunggu stok dan populasi ke angka yang lebih ideal,” pungkasnya.

Baca Juga: 41 Ekor Hewan Kurban Diserahkan Pj Wali Kota Pontianak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *